Sabtu, 03 Desember 2016

Nisan

Tinggalmu seorang diri
Tak ada niat dalam hati
Tuk melangkahkan kaki
Lalu pergi

Tangis di pipimu
Melati putih di genggammu
Mulut yang berkali kukecup
Hanya terkunci terkatup

Habis sudah orang disini
Purnama juga t'lah menghampiri
Ingin aku berbisik,
"Pulang, Ibumu menanti dari tadi,"

Meski ku ingin ditemani
Tapi biar waktu yang bawa kau kesini
Hentikan sesak dalam diri
Kita kan bersama lagi nanti hari

Kini pulanglah kasih
Peluk nisan ini
Jangan tangisi aku lagi
Ini sudah malam hari

Selasa, 29 November 2016

Tiada Beda

Apa yang jadikan hujan deras dan gerimis berbeda?
Sama air semesta jatuh mendera tanah
Lalu apa yang salah dengan kita?
Sama jiwa hampa bercita taklukkan jagad raya

Meronta

Sungguh, fajar t'lah datang dan menghempas karang
Jiwa pun tidak gentar meski mendera genderang perang
Badai yang menyerang tak kian berhenti dan pulang
Satu yang dituju menjadi penghabisan nan lekang

Segala menyala t'lah ringkih tertempa baja dan belati
Dan t'lah terlumpuhkan waktu yang selalu menari
Kini biarkanlah kala hidupnya 'tuk meronta dan merintih
Toh perlahan mereka tidak perduli lagi dan pilih mati

Pujangga Alam

Dialah pujangga termasyhur yang dipuja selaut kaum hawa
Apa yang dipegang tangannya berubah menjadi indah
Dan sembarang frasa yang keluar dari mulutnya meraba rasa
Tidak perlu nada dan macam cara ia mudah menjelma raga

Dalam sunyi ia mengoyak dahaga dan mencipta realita
Terpancar keindahan nirwana dan surga dalam aura
Bergegaslah, jangan berdiam lama-lama
Telah cukup wanita yang menggila pesona tak sirna-sirna

Jangan jangkit aku; ku tidak mau
Terjerembap matamu, tenggelam dalam keagunganmu
Jangan pula coba memasuki langitku; ku tidak suka merindu
Dan aku tidak mau meragu lagi dan lagi dalam abu-abu

Minggu, 16 Oktober 2016

Langit Milikmu

Langit mana yang perlu ku jamahi
Jika tiada yang mengilhami
Langit mana yang membiru lapang
Saat pagi tak layak lagi dijelang

Langit mana yang ku akan tiduri jika malam menghampiri
Dimana awannya kan menyelimuti hati
Di langit mana lagi rumah sang Ratu
Tempat pulang yang tiada ragu

Di antara udara yang berhembus manjakah,
Dibelai rindu nan tersirat dalam jingga,
Atau sesederhana didekap pelukmu kala senja?

Minggu, 09 Oktober 2016

Kedua Kalinya

Teduhkan rasa dan raga di naungan bayangan
Hampanya ruang melahap relung nyanyian
Ia pun tidak menanya sepatah kata
Dalam lelap senyap ia ternyata jatuh cinta

Tidak ada satu hembus angin pun yang tahu
Semesta yang mana yang kita butuh
Tapi tanah yang aku pijak tahu
Betapa hujan di luar itu buatnya rapuh

Sampaikan pada terang bulan malam itu
Rasa dan nelangsa yang ada
Aku juga akan katakan pada ia;
Aku telah takluk untuk kedua kalinya

Kamis, 06 Oktober 2016

Pandangmu

Pandangmu lekang terkekang
Hingga sana tiada setitik terang
Selalu jingga meski belum petang
Tergencar kacaunya perang

Pandangmu langit nan lengang
Pancaran biru ombak menabrak karang
Layaknya luka di mata berpasang-pasang
Menghempas hingga lepas ke dasar jurang

Pandangmu, mana mungkin kubiarkan hilang
Masih dingin dalam kenang
Bersarang dalam hati yang malang
Entah bagaimana selalu mengundang tuk pulang

Selasa, 20 September 2016

Tiada Selamanya

Dimanakah selamanya benar-benar berarti?
Apakah di ujung pandang sepasang matamu?
Atau di tengah sesak dan pekatnya hiruk kota?

Selamanya, bahkan kata itu hanyalah fana
Bumi terus berotasi dan matahari akan terganti
Bulan dapat saja sewaktu-waktu pergi
Apalagi sekedar memperbincangkan soal hati

Biarkan saja ia meronta dan merintih
Toh perlahan nanti juga akan mati

Rabu, 14 September 2016

Maaf.......

Di waktu antara petang dan dini hari
Saat mentari tak berdaya upaya lagi
Bintang jatuh sudah ada di persemayamannya
Sepi jadi pelita juga temaramnya

Bintang telah tanggal dan mimpi pun usai
Tinggal satu hal tersisa kian menyiksa
Yang mengusik dan terus memuai
Dalam gulita gelap, ada permintaan maafku di pusatnya

Resapi, mungkin ini puisi untukmu yang terakhir kali

Maaf, ia kata yang tak berumah tapi biarkan ia singgah
Disisipkan sejenak olehku sang empunya
Kepadamu, yang terlibat dalam kacaunya diriku
Yang terbebani atas adanya ragaku

Maaf, mungkin tak berarti tapi kupastikan dari hati
Maaf telah memberatkan punggungmu dengan kata dan aksara
Habiskan cuma-cuma waktumu yang berharga
Buatmu lelah hanya karena diriku yang tak berarti

Maaf, meski maaf ku ini tidak sama sekali layak
Bukankah segala kata di dunia tidak pantas bersanding denganmu?
Nistaku yang bukan penyair masyhur
Berani lukiskanmu hanya dengan sekedar sajak

Maaf, sedalam-dalamnya
Sungguh, tak pernah terlintas maksud buatmu susah karena diri ini
Kau tidak perlu pergi, toh dasarnya pun kau tak pernah disini
Biarkan aku yang lenyap, kau pun tidak akan peduli

Jumat, 02 September 2016

Hayati

Hayati...
Tajuk-tajuk sajak ku yang kelak terangi redup langkahmu
Jiwa kosong dan hampa yang selalu miliki waktu menunggu
Rasa yang terbelenggu dan tak pernah bisa kau pahami

Hayati...
Lihat ia sendiri menanti pagi
Pemerhati bangun cahyanya yang semalam mati
Gerik tangan yang meliuk lagi dan lagi

Hayati...
Deru ombak yang menabrak dan perlahan kikis hati
Dua pasang mata nan senantiasa kian mendekati
Hayati dan mengerti, jangan biarkan rasa ini pupus dan mati

Kamis, 25 Agustus 2016

Kamu Tidak Pernah Ada

Kamu tidak pernah ada. Tak berada di lini nyata. Aku pencipta citramu dalam goresan tinta belasan sajak. Pikiran tengah malam yang menjelma membentuk kata.

Kamu tidak pernah ada. Mungkin kamu sekadar permintaan muluk-mulukku yang tidak terkabul. Kandas dimakan terlalu besarnya bayangan indahmu yang hanyalah omong kosong, hanyalah bualanku.

Kamu tidak pernah ada. Jiwa puisi ini bukanlah dirimu. Jiwa puisi ini adalah kegelisahanku. Curahan tunggalnya diri mengisi putihnya kertas tanpa teman terjaga.

Kamu tidak pernah ada. Selayak garis lintang pun bujur. Khayalan.

Kamu tidak pernah ada. Kamu sekadar teman imajiner seorang gadis tak bersurya, tak beracuan.

Minggu, 21 Agustus 2016

Waktunya Pulang

Senja,
Awan beranjak selayak ombak, memantulkan semburat jingga mentari yang sibuk beranjak, sudah tak tertahan lagi rindu yang bergejolak.

Senja,
Kau lihat dari jendela kamar yang terbuka, kawanan burung buru-buru pulang ke sarang induk mereka. Lalu lintas kota mulai sesak. Seiring gelap, lampu-lampu jalan menyala bertopang pasak. Cahaya dari mobil pun motor terlihat bergerak secepat yang mereka bisa.

Senja,
Titik-titik air hujan ikut merayakannya, membuat seluruh Jakarta mencari sumber hangat untuk dirinya. Deretan minuman di daftar menu kedai kopi, dekapan selimut, atau pelukan orang terkasih yang berada di sisi.

Senja,
Inilah waktunya untuk pulang. Raga-raga nan sementara berbondong kembali ke perapian rumah. Tapi diriku, kemana bisa ku pulang merebahkan sayap-sayap patah nan lelahku? Diri ini tak diterima di istana para awan, singgahsana raja hujan, apalagi tempat makan jalanan.

Senja,
Aku tak berumah. Dingin seraya gelapnya malam menjalankan tugas tuk menghujam tulangku, menyengal nafasku.

Senja, aku ingin pulang. Tapi harus ke raga mana yang menerima hati pengelana serta jiwa nista yang ku punya?

Sabtu, 20 Agustus 2016

Kekal

Aku ingin kita kekal tapi bahkan kekal tak miliki makna
Hanya kiasan yang dituliskan orang tak berasa
Menambah estetika pikiran-pikiran hampa di penjuru semesta
Dan seisinya yang saat detik bermenit akan lenyap bersama fana

Aku ingin kita kekal, tapi buat apa?
Toh matahari akan pergi, bulan kan terganti
Kita disini hanya akan menanti sesuatu yang akhirnya tak berarti
Bagai topan yang menggebu-gebu lalu berhenti

Kurasa Tiada Apa

Terdengar bising tapi tak dapat menentukan apa, di pusat pusaran yang menenggelamkan senja.
Terlihat tiap inci sudut lekuk tapi tak bisa terpeluk, berbatas kala detik, terhenti tanda titik.
Tersentuh udara sunyi, terngiang sederet nada kasih.
Hampa bergetar diraba angin nan berlayar.
Tidak citra, pun rasa, sudi merasuk rusuk.
Tinggal ombak merebak bersama jiwa nyenyat.

Senin, 15 Agustus 2016

Harap Tanpa Sayap

Sekadar harap tak bersayap
Menunggu lenyap dimakan gelap
Berteman sunyi senyap
Menengadah menanti kerlap

Selayak angan tak berjiwa
Tanah terpijak bintang tak berada
Dan beringin mendayu indah
Tak merasa adanya suara

Sabtu, 30 Juli 2016

Andai

Harapku usang sudah
Terbakar sebelum menyala
Yakinmu jauh tak tersentuh
Sedekat nadi pun tak bersatu

Andai hanya jarak yang menyingkap
Andai sekadar rindu yang menyiksa
Andai sesederhana terpisah waktu
Andai segalanya semudah itu

Sang Surya



Senja, disinilah kita berpisah
Kamu tenggelam dalam terangmu
Dan aku menyinari gelapnya malam
Seorang diri melita pekat

Tanpa ada yang menengadah pada diriku
Sadari hampa merana
Gelap berpekat hitamnya
Berteman harap asa yang sia

Bukanlah bintang, pun bidadari
Hanya debu yang terpaku
Selalu miliki waktu tuk menunggu
Dirimu yang bagiku semu

Aku, sang Bulan
Selalu memuja sang Surya dalam pekatnya dunia
Berharap pagi kembali mematikanku
Demi cahyanya bagi mereka

Minggu, 24 Juli 2016

Dan Dia

Dia tunggal;
Bersama udara di kanan-kirinya
Senandung angin menjadi pelitanya
Serta purnama tempat mengadunya

Dia tunggal;
Ia yakin jiwanya lebih kuat dari semesta

Dia tunggal;
Tapi jauh di dalam manik matanya tercermin nyata
Sepi perlahan membunuhnya