Rasanya pasti bagai pujangga melayang di istana atas awan,
tempat tahta para dewi dan dewa yang siang malam panen pujaan.
Rasanya pasti seperti aktor utama pementasan drama yang
sukses mendulang tepuk tangan seisi gedung pertunjukan. Dielu-elukan seakan lebih
gemerlap daripada malam atau lebih terang daripada bintang.
Rasanya pasti bangga. Rasanya pasti bahagia. Hatimu yang
kadang bodoh itu pasti bergelora. Melihat gelombang senyum, mendengar ombak
seruan – terdengar menyebut namamu. Hanya namamu. Terpaku.
Senyum. Apalagi yang bisa kau berikan selain senyum andalan
itu kepada raga-raga yang memujimu? Itu pula sudah lebih dari cukup. Indah,
memikat, memesona. Siapa yang tidak terjerat?
Tidak berarti lagi rasa yang lalu. Inilah bukti yang nyata,
telah dihantarkan tepat ke kehidupanmu. Tidak sekali, tidak pula hanya dua
kali. Kau telah berada di panggung utama ini tiap hari.
Selagi kau di panggung, aku penonton setia. Meski terhimpit
ribuan yang lainnya. Meski harus berkawan dengan teriakan mereka yang mengagungkanmu.
Aku ada, walaupun besar kemungkinannya kau tidak melihat. Tapi, seperti yang
selalu aku katakan, aku ada. Mungkin dalam senyap, tak berani teriak.
Rasanya pasti luar biasa bagimu.
Rasanya begitu sulit bagiku. Memandangmu. Mendengarmu.
Tanpa benar-benar dapat mengetahui isi hati bodohmu yang
dulu aku pernah menyelam di dalamnya. Tanpa mengetahui apakah masih ada gugup
yang biasa menggerogoti benda itu.
-- 2/11/17, sekitar pukul 1 dini hari