Kamis, 25 Agustus 2016

Kamu Tidak Pernah Ada

Kamu tidak pernah ada. Tak berada di lini nyata. Aku pencipta citramu dalam goresan tinta belasan sajak. Pikiran tengah malam yang menjelma membentuk kata.

Kamu tidak pernah ada. Mungkin kamu sekadar permintaan muluk-mulukku yang tidak terkabul. Kandas dimakan terlalu besarnya bayangan indahmu yang hanyalah omong kosong, hanyalah bualanku.

Kamu tidak pernah ada. Jiwa puisi ini bukanlah dirimu. Jiwa puisi ini adalah kegelisahanku. Curahan tunggalnya diri mengisi putihnya kertas tanpa teman terjaga.

Kamu tidak pernah ada. Selayak garis lintang pun bujur. Khayalan.

Kamu tidak pernah ada. Kamu sekadar teman imajiner seorang gadis tak bersurya, tak beracuan.

Minggu, 21 Agustus 2016

Waktunya Pulang

Senja,
Awan beranjak selayak ombak, memantulkan semburat jingga mentari yang sibuk beranjak, sudah tak tertahan lagi rindu yang bergejolak.

Senja,
Kau lihat dari jendela kamar yang terbuka, kawanan burung buru-buru pulang ke sarang induk mereka. Lalu lintas kota mulai sesak. Seiring gelap, lampu-lampu jalan menyala bertopang pasak. Cahaya dari mobil pun motor terlihat bergerak secepat yang mereka bisa.

Senja,
Titik-titik air hujan ikut merayakannya, membuat seluruh Jakarta mencari sumber hangat untuk dirinya. Deretan minuman di daftar menu kedai kopi, dekapan selimut, atau pelukan orang terkasih yang berada di sisi.

Senja,
Inilah waktunya untuk pulang. Raga-raga nan sementara berbondong kembali ke perapian rumah. Tapi diriku, kemana bisa ku pulang merebahkan sayap-sayap patah nan lelahku? Diri ini tak diterima di istana para awan, singgahsana raja hujan, apalagi tempat makan jalanan.

Senja,
Aku tak berumah. Dingin seraya gelapnya malam menjalankan tugas tuk menghujam tulangku, menyengal nafasku.

Senja, aku ingin pulang. Tapi harus ke raga mana yang menerima hati pengelana serta jiwa nista yang ku punya?

Sabtu, 20 Agustus 2016

Kekal

Aku ingin kita kekal tapi bahkan kekal tak miliki makna
Hanya kiasan yang dituliskan orang tak berasa
Menambah estetika pikiran-pikiran hampa di penjuru semesta
Dan seisinya yang saat detik bermenit akan lenyap bersama fana

Aku ingin kita kekal, tapi buat apa?
Toh matahari akan pergi, bulan kan terganti
Kita disini hanya akan menanti sesuatu yang akhirnya tak berarti
Bagai topan yang menggebu-gebu lalu berhenti

Kurasa Tiada Apa

Terdengar bising tapi tak dapat menentukan apa, di pusat pusaran yang menenggelamkan senja.
Terlihat tiap inci sudut lekuk tapi tak bisa terpeluk, berbatas kala detik, terhenti tanda titik.
Tersentuh udara sunyi, terngiang sederet nada kasih.
Hampa bergetar diraba angin nan berlayar.
Tidak citra, pun rasa, sudi merasuk rusuk.
Tinggal ombak merebak bersama jiwa nyenyat.

Senin, 15 Agustus 2016

Harap Tanpa Sayap

Sekadar harap tak bersayap
Menunggu lenyap dimakan gelap
Berteman sunyi senyap
Menengadah menanti kerlap

Selayak angan tak berjiwa
Tanah terpijak bintang tak berada
Dan beringin mendayu indah
Tak merasa adanya suara