Minggu, 21 Agustus 2016

Waktunya Pulang

Senja,
Awan beranjak selayak ombak, memantulkan semburat jingga mentari yang sibuk beranjak, sudah tak tertahan lagi rindu yang bergejolak.

Senja,
Kau lihat dari jendela kamar yang terbuka, kawanan burung buru-buru pulang ke sarang induk mereka. Lalu lintas kota mulai sesak. Seiring gelap, lampu-lampu jalan menyala bertopang pasak. Cahaya dari mobil pun motor terlihat bergerak secepat yang mereka bisa.

Senja,
Titik-titik air hujan ikut merayakannya, membuat seluruh Jakarta mencari sumber hangat untuk dirinya. Deretan minuman di daftar menu kedai kopi, dekapan selimut, atau pelukan orang terkasih yang berada di sisi.

Senja,
Inilah waktunya untuk pulang. Raga-raga nan sementara berbondong kembali ke perapian rumah. Tapi diriku, kemana bisa ku pulang merebahkan sayap-sayap patah nan lelahku? Diri ini tak diterima di istana para awan, singgahsana raja hujan, apalagi tempat makan jalanan.

Senja,
Aku tak berumah. Dingin seraya gelapnya malam menjalankan tugas tuk menghujam tulangku, menyengal nafasku.

Senja, aku ingin pulang. Tapi harus ke raga mana yang menerima hati pengelana serta jiwa nista yang ku punya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar