Minggu, 24 Desember 2017

Doa

Kamarku jadi bagian dari malam panjang
Secercah cahaya di tengah gelap senyap
Lampu berpendar bersaing dengan pancar bulan di puncak
Jadi kawan di kegelisahan nan senantiasa mengejar

Akalku mencoba meraba pinggiran takdir
Mataku menatap menembus tembok bata rumah
Jiwaku begitu saja lepas
Tahu tujuan, hanya tak mengantongi kepastian

Jiwaku pulang setelah hilang dalam kelengangan
Tidak membawa pencerahan dari pertanyaan
Akan sampaikah aku di masa
Ku dapat melengkungkan senyum di wajah-wajah nestapa

Bisa jadi tidak pernah
Entah ajal; atau tak tertulis di garis tangan
Hingga tak lagi kuasa 'tuk menerka
Ku putuskan 'tuk menghadapNya

- di dalam kamar bercat coklat muda,
aku yang tak berdaya; berdoa.
00:27 a.m. 24 Desember 2017

Jemu

Gerigi hari t'lah letih
Berputar bersama rantai ringkih
Berdenyit tiap denyut nadi
Berderit di ujung jari

Putaran yang itu-itu lagi
Untuk kesekian ribu kali
Jika punya hati pasti merintih
Meraung-raung minta henti

Mulai lagi satu yang baru
Seiring muncul ragu
Di dalam hati lugu

- 00:44 a.m. 4 Desember 2017

Sabtu, 25 November 2017

Pekak

Lelah sekali telinga ini
Hari demi hari dengar nama itu lagi
Tidak kunjung berujung
Jika ini sandiwara, dialah aktor ulung

Perih mata ini
Tiap pagi tiada yang lain selain mukanya di televisi
juga tiap siang, petang, hingga malam

'Mangkir lagi'
Judul berita di surat kabar hari ini
Dengan ukuran setengah halaman!

Katanya yakin tidak bersalah
tapi malah lari!
Dikira rakyat sebodoh itukah?
hingga bisa dikelabui trik basi

Ingin berpraduga tidak bersalah
Tapi dianya tidak kooperatif
Bagaimana pikiran jadi tidak negatif?

- ditulis di bulan November.

Kamis, 02 November 2017

Terpuja

Rasanya pasti bagai pujangga melayang di istana atas awan, tempat tahta para dewi dan dewa yang siang malam panen pujaan.

Rasanya pasti seperti aktor utama pementasan drama yang sukses mendulang tepuk tangan seisi gedung pertunjukan. Dielu-elukan seakan lebih gemerlap daripada malam atau lebih terang daripada bintang.

Rasanya pasti bangga. Rasanya pasti bahagia. Hatimu yang kadang bodoh itu pasti bergelora. Melihat gelombang senyum, mendengar ombak seruan – terdengar menyebut namamu. Hanya namamu. Terpaku.

Senyum. Apalagi yang bisa kau berikan selain senyum andalan itu kepada raga-raga yang memujimu? Itu pula sudah lebih dari cukup. Indah, memikat, memesona. Siapa yang tidak terjerat?

Tidak berarti lagi rasa yang lalu. Inilah bukti yang nyata, telah dihantarkan tepat ke kehidupanmu. Tidak sekali, tidak pula hanya dua kali. Kau telah berada di panggung utama ini tiap hari.

Selagi kau di panggung, aku penonton setia. Meski terhimpit ribuan yang lainnya. Meski harus berkawan dengan teriakan mereka yang mengagungkanmu. Aku ada, walaupun besar kemungkinannya kau tidak melihat. Tapi, seperti yang selalu aku katakan, aku ada. Mungkin dalam senyap, tak berani teriak.

Rasanya pasti luar biasa bagimu.
Rasanya begitu sulit bagiku. Memandangmu. Mendengarmu.


Tanpa benar-benar dapat mengetahui isi hati bodohmu yang dulu aku pernah menyelam di dalamnya. Tanpa mengetahui apakah masih ada gugup yang biasa menggerogoti benda itu.

-- 2/11/17, sekitar pukul 1 dini hari

Kamis, 28 September 2017

Menghamba pada cinta
Seperti tidak punya Tuhan saja!
Kalau putus cinta,
Kau mau lari kemana?

Rentan

Seorang diri mengembara
Dalam darah surya membara
Dingin meronta-ronta
Tubuhku ini rentan

Akan segala
Segala yang tak terteka
Akan segala
Segala yang binasa

Mungkin seiring waktu
Akalku ini akan meletus
Jadi hanyalah abu

Dan kau kepalang tahu

Minggu, 03 September 2017

Malam Terindah

Mungkin pada malam itu, Tuhan sengaja mengelupas hatiku agar aku lebih menghayati dan terhanyut dalam tiap lirik yang dilantunkan Duta di atas panggung. Ini momen yang aku impikan sejak masih ingusan, baiknya Tuhan membuat malam ini tidak akan ku lupakan.

Mudah saja bagimu karena cintamu seperti cintaku, begitu nyanyian Duta, idolaku, yang suaranya menghiasi indra dengarku hampir setiap waktu. Menusuk sudah tentu, karena tepat saat itu, aku tidak lagi mengerti betapa hancurnya hati dan jiwaku.

Ya, Tuhan yang menyayangiku tidak membiarkanku senang berlebih, mungkin agar aku tidak tenggelam dalam gelombang malam. Mungkin Ia membuat malam ini tidak seindah seharusnya demi hal yang terbaik selanjutnya.

Tetapi mungkin saja, malam inilah yang terindah. Eross dan Duta, Brian dan Barkah, cahaya dan suara, serta aku dan terkabulnya doaku. Mungkin inilah malam yang benar-benar indah. Malam yang sempurna. Malam yang benar-benar tidak akan terlupa.

Jangan layu, kata Duta kepada Kakak Rani. Akan ku anggap ia mengatakannya padaku, aku takkan layu. Takkan. Mungkin semua ini kan cepat berarti. Semoga semua ini adalah persinggahan sementara mimpiku.

(Minggu, 3 September 2017 02:58 A.M.)

Tambahan :
Terimakasih banyak, Sheila on 7. Pengaruh musik kalian dalam hidupku sangat besar, lebih dari yang kalian bayangkan. Terimakasih telah menciptakan musik yang tidak hanya indah didengar, tapi juga mengilhami pendengar. Percayalah, sebagian kekuatan dalam diri ini berasal dari kalian. Terimakasih kepada Tuhan telah membuat kalian berada hingga sekarang. You deserve a lifetime achievement, for sure.

Sabtu, 26 Agustus 2017

Arus

Kita sama pada dasarmya
sama airnya
tapi kau danau yang lelap dan tenang,
aku sungai berarus deras

Kau tidak suka arusku
meski aku kagumi riak pelan danaumu
Aku akan mencari jalan kepadamu
tapi kau akan diam bergeming
tak pernah menginginkanku

Arus yang tenang darimu
bahkan mengalahkan bisik arusku
meski lelap,
-- entah bagaimana caranya,
kau berhasil menghanyutkanku

Tanpa kesadaran darimu
karena dari awalnya,
tidak pernah kau inginkan aku

Kita memang berbeda
percuma aku cari yang sama antara kita
kita tidak pernah sama. Hanya ku buat-buat.

Sudahlah,
arusku tidak mau lagi mengusik kedamaianmu.

Senin, 03 Juli 2017

Adinda

Batu karang yang dihempas ombak
Hingga sampai saatnya kan luluh lantak

Baja yang diterpa cuaca
Kelamaan akan meronta

Berlian yang termasyhur
Digores kawannya pun lebur

Tapi ketahuilah, Adinda
Hatimu materi terkuat sejagad raya

Kala Pisah

Resah
Malam setengah sudah
Bulan sabit di luar sana
Putus asa menjangkau fana

Di pulau seberang kau berada
Apa terpikir tatapku?
Di tengah kerubungan air biru
Apa teringat ragaku?

Di bawah langit, di tengah sengit
Di antara laut, di kala sujud
Kau tak terbias cahaya

Sabtu, 17 Juni 2017

Duniaku di Atasmu

merah,
duniaku di atasmu
setahun tidaklah cukup
merengkuhmu

duniaku di atasmu
sepanjang bentang
seluas cakupan

tidak akan pergi
dari rumah ingatanku
betapa merah
dan megahmu

duniaku di atasmu
tapi kini ku kan beranjak
tunjukkan dunia
dan orangtua
kau membentukku

duniaku di atasmu,
meski ku pergi
aku takkan pernah segan
untuk kembali

duniaku
terbentuk
di atasmu

Jumat, 09 Juni 2017

Teruslah

Teruslah puncaki tiap jerit mereka
Kerlap dalam lelap berjaya di kepungan gelap
Kau telah tinggal di jiwa puja puji para bidadari
Menari-nari di angan bawah naungan mentari

Teruslah di atas sana menanti
Permaisuri yang paling layak tuk dampingi
Dan hingga waktu itu nanti menghampiri
Layakkah aku mengumpat satu-dua baris puja puji?

Senin, 08 Mei 2017

Negara

Muda dan nista
Wajahku di mata mereka
Tidak tahu dunia
Berkoar saja bisanya

Ia kira ialah penguasa
Jagad raya nusa bangsa miliknya
Rakyat penyokong tahta
Negara ini bahan canda tawa

Politik, benar-benar kejamnya
Meraup nurani sebagian raga
Apa bisa tetap suci setelah dilahapnya?
Apa tinggal sisa badan tanpa agama?

Darah

Darah pemberontak mengalir di nadi-nadi kami
Lihatlah itu Bung Tomo atau Bung Karno
Menyalakan api tanah air Ibu Pertiwi
Hingga masih berdiri di hari ini

Darah itu ada
Memberontak tuk merdeka

Darah mereka mengalir di kita
Tapi di tangan kita
Akankah bangsa ini jaya?

Indonesia merdeka
Semoga bukan saja gaung belaka

Ibukota

Siapapun, jagalah kami
Kami tidak peduli siapa dan darimana
Kami hanya ingin terjaga
Kami hanya ingin yang sebagaimana mestinya

Ini pesanku sang Ibukota
Yang hari makin hari makin merana
Padahal yang ku ingin hanya berada
Dan berguna tuk semuanya

Ibukota tidaklah ingin kaya
Tidak ingin bergelimang rayanya harta
Hanya ingin sedikit saja ramah
Hanya ingin untuk menyapa

Ibukota,
Sama sekali tidak ada niatan menyiksa
Jagalah, jagalah
Ibukota yang kian ringkih tertempa

Ria

Sukaria sajalah semua!
Penuhi gelas-gelas tinggi
Jangan ragu teguk tuk kesekian kali

Nyalakan api pembakaran
Hangati hati yang kebakaran
Kita kan terus disini semalaman
Dengan fajar pagi kita kelak berkenalan

Tenggelamkan dulu resahmu sejenak
Kita habiskan malam tanpa tidur nyenyak!

Senin, 20 Maret 2017

Terbenam

Kita menikmati matahari terbenam
Setiap lekuk sang surya kala menenggelamkan dirinya, membiarkan dirinya dilahap langit biru. Pantulan jingga di awan yang berarak ingin pulang, seiring malam yang akan datang.

Kita menikmati matahari terbenam
Bersama tanpa kata. Menatapnya seakan nirwana di dunia.

Kita menikmati matahari terbenam
Tapi lupa bahwa waktu kita berkurang
Tapi lupa akan detik yang terus berdentang

Mungkin suatu saat tatapanmu kepadaku akan hilang,
selayak mentari yang diganti rembulan.
Di mana suatu saat nanti, tidak ada lagi kita. Tidak lagi dapat kunikmati senja ini bersama.
Suatu saat nanti, hanya aku dan jingga.

Jingga pun pergi, meninggalkanku sendiri dalam gelap.
Menakutkan.

Rabu, 15 Maret 2017

Takkan Menang

Takkan lah aku menang
Lawanku bak bidadari nirwana
Penggenggam sejuta mantra
Tatap pertama hingga mabuk asmara

Takkan mungkin lah aku menang
Bayangkan, aku melawan juara bertahan!
Ingin merebut pun aku tak mampu

Kekasih Langit

Hujan;
Kekasih langit yang terlepas
Direlanya,
Mengarungi mega dan cahya

Malam;
Dingin mengekang
Hujan berlenggang
Aku; yang takkan menang

Melawan arus pesonamu
Juga deraan pinta hati kecilku

--28 Desember 2016
9:05 P.M.

Kamis, 09 Maret 2017

Rebah

Dan aku rebah
Ku takluk hingga lemah
Sekadar mencari rumah
Tempat singgah keluh kesah

Di antara jiwa goyah
Di antara hati gelisah
Di bawah purnama terbelah
Di dalam ketidakmungkinan nyata

Prasangka

Ingin berkata
Tapi bungkam seketika
Kala tatap sepasang mata
Terpancar derai luka

Ingin kupuja
Lekuk alam semesta
Yang tak disangka
Juga kenal cinta

Kelu

Hela
Nafasku lagi.
Peras
Darahku.
Hingga tubuhku
Putih
Kelu.

Rabu, 08 Maret 2017

...

Segalaku t'lah beku,
Mati rasa jiwaku,
Habis untukmu,
Masih hampa kau rasa?
Masih kurang kau kata?

Satu?

Bencana yang tetap ku terjang
Pelik mencekam, rasaku lengang
Resah hati tiada lagi dapat terkata
Kala yang tak bernyawa lebih berharga

Aku dan takjubku, dan lelahku, dan hirauanmu
Tidak ada yang pahami,
Meski merintih,
Tidak perlu dan tidak usah dinanti

Minggu, 29 Januari 2017

Puisi Malam

Sepekat gelap sejalan waktu nan kalap,
Seindah kembang malam dengan dirimu yang temaram,
Sesejuk angin yang kembali ke rumah yang tak pernah dicipta,
Seterang ribuan malam purnama,
Rasa yang ditimbuni dan ditampik ada.

December 18, 2016 -- 11.55 pm

Bayangan

Mungkin, kita dapat bersatu
Meski lantangnya jarak telah berseru
'Kan ku langkahkan kaki hingga lurus dua raga
Hingga bayangku dan bayangmu tidak lagi berbeda
Kita akan menyatu dalam gelap
Hingga cahaya merubah haluannya,
nikmati saja kala singkat ini.