Di waktu antara petang dan dini hari
Saat mentari tak berdaya upaya lagi
Bintang jatuh sudah ada di persemayamannya
Sepi jadi pelita juga temaramnya
Bintang telah tanggal dan mimpi pun usai
Tinggal satu hal tersisa kian menyiksa
Yang mengusik dan terus memuai
Dalam gulita gelap, ada permintaan maafku di pusatnya
Resapi, mungkin ini puisi untukmu yang terakhir kali
Maaf, ia kata yang tak berumah tapi biarkan ia singgah
Disisipkan sejenak olehku sang empunya
Kepadamu, yang terlibat dalam kacaunya diriku
Yang terbebani atas adanya ragaku
Maaf, mungkin tak berarti tapi kupastikan dari hati
Maaf telah memberatkan punggungmu dengan kata dan aksara
Habiskan cuma-cuma waktumu yang berharga
Buatmu lelah hanya karena diriku yang tak berarti
Maaf, meski maaf ku ini tidak sama sekali layak
Bukankah segala kata di dunia tidak pantas bersanding denganmu?
Nistaku yang bukan penyair masyhur
Berani lukiskanmu hanya dengan sekedar sajak
Maaf, sedalam-dalamnya
Sungguh, tak pernah terlintas maksud buatmu susah karena diri ini
Kau tidak perlu pergi, toh dasarnya pun kau tak pernah disini
Biarkan aku yang lenyap, kau pun tidak akan peduli

Tidak ada komentar:
Posting Komentar